h1

SEJARAH TEKFIS

October 15, 2009

SEJARAH TEKNIK FISIKA UGM

Oleh: Galih Setiaji

sebelumnya teknik fisika bernama teknik nuklir, sebenarnya teknik nuklir sudah berdiri sejak tahun 1977 dan hanya memiliki satu program studi yaitu teknik nuklir. Pada awal berdirinya Jurusan Teknik Nuklir UGM menyelenggarakan pendidikan hanya pada tingkat sarjana selama empat semester dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru yang mempunyai ijazah Sarjana Muda Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro,Fisika dan Kimia, di samping mahasiswa tugas belajar dari beberapa instansi.Bersama dengan Jurusan Teknik Kimia, Teknik Geodesi dan KPTU Fakultas Teknik UGM. Jurusan Teknik Nuklir bertempat di Sekip, gedung yang digunakan untuk diploma Teknik Mesin dan Elektro saat ini. Baru pada akhir tahun 1992, Jurusan Teknik Nuklir bergabung di Grafika.

Teknik nuklir didirikan karena didasari karena pentingnya energi nuklir di indonesia. Pada tahun 1998 teknik nuklir memeiliki 2 program studi yaitu fisika teknik dan teknik nuklir. Fisika teknik didirikan karena fakultas teknik UGM ingin  memperluas bidang studi tentang energi. Sejak saat itu  pada tanggal 25 juni 2001 teknik nuklir berubah nama menjadi teknik fisika. Perubahan nama ini mungkin dimaksudkan agar jurusan ini menjadi popular dan dikenal oleh banyak kalangan. Tapi tetap saja masih banyak orang yang mengira bahwa teknik fisika adalah Jurusan Fisika yang mempelajari Teknik, padahal seharusnya Jurusan Teknik yang mempelajari Pengaplikasian Fisika pada dunia Teknik

Jurusan Teknik Fisika adalah salah satu Jurusan di Fakultas ugm yang memberikan bekal ke mahasiswanya berupa  Ilmu Fisika dan matematika yang kuat serta rekayasa keduanya. sehingga lulusannya cepat beradaptasi dengan lingkungan kerjanya, hal ini merupakan ciri yang unik dari program pendidikan teknik fisika.

GALIH SETIAJI

***********************************************************************************************************

SEJARAH JTF UGM

Oleh : Annas Untung Wibowo

Fakultas  Teknik  Universitas  Gadjah  Mada  lahir  dalam  kancah revolusi.  Pada  akhir  Perang  Dunia II, setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, dan diproklamasikan Kemerdekaan  Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlah Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandoeng. Sebagai hasil  pengambilalihan kekuasaan dari  pemerintah Jepang oleh Pemerintah Republik Indonesia, STT ini merupakan kelanjutan Koo Gyoo Dai Gaku pada masa pendudukan Jepang dan Technische Hoogeschool pada masa pendudukan Belanda.
Akibat pertikaian antara pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintah  Belanda yang dibantu oleh tentara Sekutu, dan juga atas usul beberapa mahasiswa, STT Bandoeng pada bulan Januari 1946 mengungsi ke Yogyakarta. Secara resmi, STT  Bandoeng  di Jogjakarta  dibuka pada tanggal 17 Februari 1946, dengan bagian-bagian  yang sama seperti ketika masih di Bandung, yakni  Bagian Teknik  Sipil,  Bagian Teknik Mesin-Listrik, dan Bagian Teknik Kimia. Pada awal kegiatannya di Yogyakarta, STT ini  menempati ruang-ruang di gedung olah raga Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di kawasan Kota Baru. Kegiatan kuliah diselenggarakan pada sore hari.

Pada tahun yang sama, yakni bulan Januari 1946 di Yogyakarta  dibentuk  Universitas atau Balai  Perguruan  Tinggi (BPT) Swasta Gadjah Mada. Namun STT Bandoeng tidak menjadi bagian dari  Perguruan  Tinggi Swasta tersebut, karena STT Bandoeng di Jogjakarta adalah lembaga pemerin-tah (negeri). Jadi STT Bandung merupakan pergu-ruan tinggi negeri yang pertama di Yogyakarta.
Tidak lama  kemudian STT Bandoeng di Jogjakarta  diubah  menjadi Sekolah Tinggi Teknik Jogjakarta, dan kegiatan perkuliahan pindah dari Kotabaru ke Kampus Jetis Yogyakarta. Dalam perkembangan selanjutnya selain Kampus Jetis, STT Jogjakarta juga  memiliki laboratorium di Jl. Krasak dan di Jl. Pingit Yogyakarta.
Dalam masa perjuangan mempertahankan negara (Clash II, Desember 1948 – Oktober 1949), baik STT Jogjakarta maupun BPT  Swasta Gadjah Mada terpaksa ditutup. Para dosen, mahasiswa, dan pegawai STT Jogjakarta mem-bantu perjuangan fisik dan  turut  bergerilya bersama-sama rakyat dan Tentara Nasional Indonesia. Pada tanggal 19  Desember 1949 setelah kedaulatan kembali ke tangan Republik Indonesia, STT Jogjakarta digabung dengan Sekolah Tinggi  Kedokteran  (yang  sebelumnya hijrah  ke Klaten  setelah Jakarta diduduki Sekutu), dan Balai  Perguruan Tinggi Gadjah Mada (swasta) menjadi Universiteit Negeri Gadjah Mada. STT Jogjakarta kemudian  berstatus sebagai Fakulteit Teknik Universiteit Gadjah Mada dengan bagian  yang sama seperti  ketika  masih di  Bandung. Tanggal tersebut kemudian dinyatakan sebagai  tanggal  kelahiran Universitas Gadjah Mada.

Pada tahun 1950, karena kekurangan staf pengajar dan mahasiswa. Bagian Mesin-Listrik Fakultas Teknik terpaksa ditutup. Pada tahun 1957 – 1966,  Fakultas Teknik UGM memperoleh bantuan dari University of California Los Angeles (UCLA) berupa tenaga-tenaga pengajar,  peralatan,  buku-buku  untuk pendidikan, dan  beasiswa pendidikan lanjut untuk staf pengajar. Dalam periode ini Fakultas Teknik UGM mengembangkan Bagian-bagian baru, yaitu Bagian Teknik Mesin (1959), Bagian Teknik Geodesi-Geologi (1959) yang  kemudian dipisah menjadi Bagian Teknik Geodesi dan Bagian Teknik Geologi (1962), Bagian  Teknik  Arsitektur  (1962),  dan  Bagian  Teknik Listrik (1963).

Memasuki tahun 1966, awal masa pemerintahan Orde Baru, Fakultas Teknik  UGM mengalami masa yang sulit, karena dana yang terbatas untuk perkembangannya.  Kesulitan itu merangsang  gagasan  untuk mengadakan  reuni  dan mengajak para alumni Fakultas Teknik UGM untuk menyumbang tenaga dan pikiran bagi pengem-bangan Fakultas. Reuni ini melahirkan KATGAMA (Keluar-ga Alumni Teknik Universitas Gadjah Mada) yang ternyata mempunyai peran yang tidak kecil dalam berbagai upaya pembinaan dan pengembangan Fakultas Teknik UGM. KATGAMA ini pada perkembangan selanjutnya secara organisasi merupakan salah satu Komisariat dari KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada).

Pada tanggal 5 Desember 1974 ditandatangani Kerjasama Induk antara Universitas Gadjah Mada dan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang kemudian diperpanjang pada tanggal 22 Februari 1978. Pendidikan Teknik Nuklir merupakan salah satu kerjasama tersebut yang dituang-kan dalam beberapa Naskah Pengaturan Kerjasama antara Universitas Gadjah Mada dengan Pusat Penelitian Bahan Murni dan Instrumentasi (PPBMI) dan Pusat Pendidikan dan Latihan (PUSDIKLAT) BATAN Yogyakarta. Hasil dari kerjasama tersebut adalah didirikannya Bagian Teknik Nuklir pada bulan Agustus 1977.
Sesuai Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebuda-yaan No. : 043/U/1975 tentang pembentukan Pendidikan Ahli Teknik (PAT), pendidikan setelah pendidikan mene-ngah harus diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi, dalam hal ini Universitas/Institut. Berdasarkan surat keputusan tersebut beberapa Akademi Teknologi Negeri (ATN) di Yogyakarta dan sekitarnya yaitu Magelang, Purworejo, dan Klaten di-phase in ke Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menjadi PAT. Secara resmi PAT di Fakultas Teknik UGM dibuka pada tanggal 5 September 1977.
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah No. : 27 tahun 1981 tentang Penataan Fakultas pada Universitas dan Peraturan Pemerintah No. : 53 Tahun 1982 tentang Sususan Organisasi Universitas Gadjah Mada, PAT yang semula berada di Fakultas Teknik UGM dikembangkan menjadi Fakultas tersendiri di lingkungan UGM dengan nama Fakultas Non-Gelar Teknologi (FNT), dan resmi dinyatakan berdiri pada awal Juni 1983 dengan tiga (3) jurusan, yaitu Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Sipil.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1980  maka  mulai tahun 1981 setiap Bagian di lingkungan Fakultas Teknik UGM diubah menjadi Jurusan, sehingga namanya menjadi Jurusan Teknik Arsitektur, Jurusan  Teknik  Elektro,  Jurusan  Teknik  Geodesi, Jurusan Teknik Geologi, Jurusan Teknik Kimia, Jurusan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Nuklir, dan Jurusan Teknik Sipil.

Pada tahun yang sama sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebuda-yaan No. 0218/U/1980 tentang Kurikulum Nasional Program Sarjana Ilmu Teknik, pada awal tahun akademik 1980/1981 seluruh jurusan di lingkungan Fakultas Teknik UGM melakukan penyempurnaan kurikulum se-cara serentak, menyesuaikan diri dengan  Kurikulum Nasional.
Pada tahun 1989 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mengesahkan Undang-undang tentang Sistem Pendidikan nasional (UUSPN) yang dikenal dengan Undang-undang No. : 2 Tahun 1989, yang diikuti dengan kelu-arnya Peraturan Pemerintah No. : 30 Tahun 1990 tanggal 10 Juli 1990 tentang Pendidikan Tinggi. Menindaklanjuti peraturan tersebut di atas adalah dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. : 0312/0/1991 tanggal 6 Juni 1991 yang mengatur tentang penutupan dan pengintegrasian Fakultas Non-Gelar Teknologi ke dalam lingkungan Universitas dan Institut. Di dalam lampiran surat keputusan tersebut ditetapkan bahwa jurusan-jurusan yang sesuai dengan FNT diin-tegrasikan ke jurusan-jurusan yang sesuai di Fakultas Teknik. Pada surat keputusan tersebut ditetapkan bahwa pelaksanaan ketentuan itu diatur oleh Rektor masing-masing Perguruan Tinggi.  Setelah diter-bitkannya Surat Keputusan Rektor UGM No.: UGM/2/119/UM/01/37 dan Surat Keputusan Dekan Fakultas Teknik UGM No. : UGM/TK/ 907/UM/01/39, maka mulai saat itu FNT sudah tidak ada.
Mulai tahun 1999, dibuka Program Diploma I Bidang Survey & Pemetaan Kadastral di Jurusan Teknik Geodesi. Namun pada  tahun 2000, program ini dikembangkan menjadi Program Diploma III Teknik Geomatika.
Sejak tahun 1980 Fakultas Teknik men-dapat bantuan dari Program Pendidikan IX Bank Dunia untuk pengem-bangannya. Pelaksanaan efek- tif Program Pendidikan  Bank Dunia dimulai bulan Agustus 1981 dengan pengiriman tenaga pengajar Fakultas Teknik UGM untuk belajar  di luar negeri. Selain itu juga didatangkan dosen tamu dan peren-canaan pembangunan ruang kuliah  dan  ruang laboratorium.  Sejak tahun 1996 kedelapan jurusan yang ada di Fakultas Teknik UGM telah menempati kompleks Fakultas Teknik UGM yang baru, yaitu di Jl. Grafika 2, Kampus UGM Yogyakarta.
Tahun 1994 Fakultas Teknik UGM mulai menyelenggarakan program  Pendidikan  Ekstensi (S-1), Teknik Arsitektur dan  Teknik Sipil bagi lulusan Sarjana Muda dan Program Diploma III sejenis. Mulai tahun akademik 1997/1998 dibuka Program Sarjana Ekstensi Pola A untuk lulusan SLTA dan Program Sarjana Ekstensi Pola B untuk lulusan Sarjana Muda dan Program Diploma III, melanjutkan Program Ekstensi yang sudah ada. Program Ekstensi berkembang dengan pesat, dan sejak tahun 2003 namanya berubah menjadi Program Swadaya A dan B. Saat ini Program Swadaya B telah diselenggarakan di Jurusan Teknik Arsitektur, Teknik Elektro, Teknik Fisika, Teknik Geodesi, Teknik Mesin (Program Studi Teknik Industri dan Program Studi Teknik Mesin), dan Teknik Sipil.
Pada tahun 1998 Fakultas Teknik UGM membuka Program Studi Teknik Industri yang berada di bawah Jurusan Teknik Mesin dan Program Studi Teknik Fisika yang berada di bawah Jurusan Teknik Nuklir. Pada tahun itu pula Jurusan Teknik Nuklir diganti menjadi Jurusan Teknik Fisika, dengan menyelenggarakan 2 (dua) program studi, yaitu Teknik Fisika dan Teknik Nuklir.
Dengan diberlakukannya Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 232/U/2000, maka sejak tahun 2001/2002 seluruh program studi di lingkungan Fakultas Teknik UGM telah memberlakukan kurikulum baru yang berbasis pada kompentensi lulusan yang berorientasi kepada learning to know, learning to do, learning to live together dan learning to be. Kurikulum 2001/2002 tersebut lebih ringkas dan lebih padat, yakni berkisar antara 144 sks – 151 sks dan terdistribusi dalam 8 semester, sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah dan kualitas lulusan serta memper-pendek lama studi rerata mahasiswa.

*************************************************************************************************************

Oleh :

Program studi Fisika Teknik diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Nuklir Fakultas Teknik UGM tahun 1998. Sedangkan Jurusan Teknik Nuklir telah berdiri semenjak tahun 1977 yang hanya memiliki program studi S1 Teknik Nuklir. Jurusan Teknik Nuklir didirikan didasari oleh pandangan tentang pentingnya teknik nuklir, khususnya nuklir sebagai engineering, bukan sebagai sains atau ilmu. Pada tahun akademik 1998/1999, Jurusan Teknik Nuklir memiliki 2 program studi, yaitu Program Studi Teknik Nuklir dan Fisika Teknik. Namun, semenjak 25 Juni 2001 Jurusan Teknik Nuklir resmi berubah nama menjadi Jurusan Teknik Fisika dengan tetap menyelenggarakan 2 program studi Fisika Teknik dan Teknik Nuklir. Sebenarnya program studi Fisika Teknik lahir di UGM karena ada keinginan untuk memperluas kompetensi keilmuan di bidang energi, jadi tidak hanya mendalami energi nuklir. Malahan ada keinginan didirikan program studi Teknik Energi tetapi karena harus mengacu kepada kurikulum nasional maka didekati dengan menyelenggarakan program studi Fisika Teknik dengan maksud tetap memdalami bidang energi. Semenjak berdirinya, Program Studi Fisika Teknik kurikulum dan silabusnya telah disusun dengan konsentrasi studi Rekayasa dan Manajemen Energi. Nah, konon begitu sejarahnya [kurang lebih begitu waktu ngobrol-ngobrol bersama Pa Alex]. Dengan ciri khas bidang Rekayasa dan Manajemen Energi yang hanya ada di Fisika Teknik UGM, disini dipelajari mulai dari berbagai macam sumber energi dan rekayasanya, seperti Rekayasa Energi Alternatif, Air, Angin, Biomassa, Nuklir, dan Surya hingga Kebijakan, Konservasi, dan Manajemen Energi dan juga Optimasi Pembangkitan Daya-nya. Selain kompetensi pendidikan pada bidang Rekayasa dan Manajemen Energi, di Program studi Fisika Teknik UGM mahasiswa dapat menekuni bidang Instrumentasi dan Kontrol, Fisika Bangunan dan Akustik, dan Teknologi Material.

*************************************************************************************************

Oleh : Laretna Annisa Rarastika

Pada tanggal 5 Desember 1974 ditandatangani Kerjasama Induk antara Universitas Gadjah Mada dan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang kemudian diperpanjang pada tanggal 22 Februari 1978. Pendidikan Teknik Nuklir merupakan salah satu kerjasama tersebut yang dituangkan dalam beberapa Naskah Pengaturan Kerjasama antara Universitas Gadjah Mada dengan Pusat Penelitian Bahan Murni dan Instrumentasi (PPBMI) dan Pusat Pendidikan dan Latihan (PUSDIKLAT) BATAN Yogyakarta. Hasil dari kerjasama tersebut adalah didirikannya Bagian Teknik Nuklir pada bulan Agustus 1977.

Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah No. : 27 tahun 1981 tentang Penataan Fakultas pada Universitas dan Peraturan Pemerintah No. : 53 Tahun 1982 tentang Sususan Organisasi Universitas Gadjah Mada, PAT yang semula berada di Fakultas Teknik UGM dikembangkan menjadi Fakultas tersendiri di lingkungan UGM dengan nama Fakultas Non-Gelar Teknologi (FNT), dan resmi dinyatakan berdiri pada awal Juni 1983 dengan tiga (3) jurusan, yaitu Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Sipil.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1980  maka  mulai tahun 1981 setiap Bagian di lingkungan Fakultas Teknik UGM diubah menjadi Jurusan, sehingga namanya menjadi Jurusan Teknik Arsitektur, Jurusan  Teknik  Elektro,  Jurusan  Teknik  Geodesi, Jurusan Teknik Geologi, Jurusan Teknik Kimia, Jurusan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Nuklir, dan Jurusan Teknik Sipil.

Pada tahun yang sama sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebuda-yaan No. 0218/U/1980 tentang Kurikulum Nasional Program Sarjana Ilmu Teknik, pada awal tahun akademik 1980/1981 seluruh jurusan di lingkungan Fakultas Teknik UGM melakukan penyempurnaan kurikulum se-cara serentak, menyesuaikan diri dengan  Kurikulum Nasional.

Sejak tahun 1980 Fakultas Teknik men-dapat bantuan dari Program Pendidikan IX Bank Dunia untuk pengem-bangannya. Pelaksanaan efek- tif Program Pendidikan  Bank Dunia dimulai bulan Agustus 1981 dengan pengiriman tenaga pengajar Fakultas Teknik UGM untuk belajar  di luar negeri. Selain itu juga didatangkan dosen tamu dan peren-canaan pembangunan ruang kuliah  dan  ruang laboratorium.  Sejak tahun 1996 kedelapan jurusan yang ada di Fakultas Teknik UGM telah menempati kompleks Fakultas Teknik UGM yang baru, yaitu di Jl. Grafika 2, Kampus UGM Yogyakarta.

Tahun 1994 Fakultas Teknik UGM mulai menyelenggarakan program  Pendidikan  Ekstensi (S-1), Teknik Arsitektur dan  Teknik Sipil bagi lulusan Sarjana Muda dan Program Diploma III sejenis. Mulai tahun akademik 1997/1998 dibuka Program Sarjana Ekstensi Pola A untuk lulusan SLTA dan Program Sarjana Ekstensi Pola B untuk lulusan Sarjana Muda dan Program Diploma III, melanjutkan Program Ekstensi yang sudah ada. Program Ekstensi berkembang dengan pesat, dan sejak tahun 2003 namanya berubah menjadi Program Swadaya A dan B. Saat ini Program Swadaya B telah diselenggarakan di Jurusan Teknik Arsitektur, Teknik Elektro, Teknik Fisika, Teknik Geodesi, Teknik Mesin (Program Studi Teknik Industri dan Program Studi Teknik Mesin), dan Teknik Sipil.

Pada tahun 1998 Fakultas Teknik UGM membuka Program Studi Teknik Industri yang berada di bawah Jurusan Teknik Mesin dan Program Studi Teknik Fisika yang berada di bawah Jurusan Teknik Nuklir. Pada tahun itu pula Jurusan Teknik Nuklir diganti menjadi Jurusan Teknik Fisika, dengan menyelenggarakan 2 (dua) program studi, yaitu Teknik Fisika dan Teknik Nuklir.

Dengan diberlakukannya Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 232/U/2000, maka sejak tahun 2001/2002 seluruh program studi di lingkungan Fakultas Teknik UGM telah memberlakukan kurikulum baru yang berbasis pada kompentensi lulusan yang berorientasi kepada learning to know, learning to do, learning to live together dan learning to be. Kurikulum 2001/2002 tersebut lebih ringkas dan lebih padat, yakni berkisar antara 144 sks – 151 sks dan terdistribusi dalam 8 semester, sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah dan kualitas lulusan serta memper-pendek lama studi rerata mahasiswa.

*************************************************************************************************

Oleh : Listyo Nugroho

Pada tanggal 5 Desember 1974 ditandatangani Kerjasama Induk antara Universitas Gadjah Mada dan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Pendidikan Teknik Nuklir dibentuk yang kemudian diperpanjang pada tanggal 22 Februari 1978. Pendidikan Teknik Nuklir merupakan salah satu kerjasama tersebut yang dituang-kan dalam beberapa Naskah Pengaturan Kerjasama antara Universitas Gadjah Mada dengan Pusat Penelitian Bahan Murni dan Instrumentasi (PPBMI) dan Pusat Pendidikan dan Latihan (PUSDIKLAT) BATAN Yogyakarta. Hasil dari kerjasama tersebut adalah didirikannya Bagian Teknik Nuklir pada bulan Agustus 1977. Jurusan Teknik Nuklir didirikan didasari oleh pandangan tentang pentingnya teknik nuklir, khususnya nuklir sebagai engineering, bukan sebagai sains atau ilmu.

Dua tokoh penting yang menjadi kunci berdirinya Jurusan Teknik Nuklir adalah Ir. Soetojo Tjokrodihardjo, Dekan Fakultas Teknik UGM saat itu dan Prof. Ahmad Baiquni, M.Sc.,Ph.D, Dirjen BATAN saat itu. Jurusan Teknik Nuklir UGM diharapkan mampu menjadi lumbung sumber daya manusia Indonesia di dalam pengembangan Teknologi Nuklir, terutama menyokong pendirian PLTN pertama di Indonesia.

Pada awal berdirinya Jurusan Teknik Nuklir UGM menyelenggarakan pendidikan hanya pada tingkat sarjana selama empat semester dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru yang mempunyai ijazah Sarjana Muda Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Fisika dan Kimia, di samping mahasiswa tugas belajar dari beberapa instansi.

Bersama dengan Jurusan Teknik Kimia, Teknik Geodesi dan KPTU Fakultas Teknik UGM, Jurusan Teknik Nuklir bertempat di Sekip, gedung yang digunakan untuk diploma Teknik Mesin dan Elektro saat ini. Baru pada akhir tahun 1992, Jurusan Teknik Nuklir bergabung di Grafika.Pendidikan Teknik Nuklir program Strata-1 (S-1) resmi diselenggarakan mulai tahun akademik 1981/1982 dan program lama ditutup pada semester ganjil tahun akademik 1984/1985.

Pada tahun akademik 1998/1999, Jurusan Teknik Nuklir memiliki 2 program studi, yaitu Program Studi Teknik Nuklir dan Fisika Teknik. Namun, semenjak 25 Juni 2001 Jurusan Teknik Nuklir resmi berubah nama menjadi Jurusan Teknik Fisika dengan tetap menyelenggarakan 2 program studi Fisika Teknik dan Teknik Nuklir. Sebenarnya program studi Fisika Teknik lahir di UGM karena ada keinginan untuk memperluas kompetensi keilmuan di bidang energi, jadi tidak hanya mendalami energi nuklir. Malahan ada keinginan didirikan program studi Teknik Energi tetapi karena harus mengacu kepada kurikulum nasional maka didekati dengan menyelenggarakan program studi Fisika Teknik dengan maksud tetap memdalami bidang energi. Semenjak berdirinya, Program Studi Fisika Teknik kurikulum dan silabusnya telah disusun dengan konsentrasi studi Rekayasa dan Manajemen Energi. Nah, konon begitu sejarahnya [kurang lebih begitu waktu ngobrol-ngobrol bersama Pa Alex]. Dengan ciri khas bidang Rekayasa dan Manajemen Energi yang hanya ada di Fisika Teknik UGM, disini dipelajari mulai dari berbagai macam sumber energi dan rekayasanya, seperti Rekayasa Energi Alternatif, Air, Angin, Biomassa, Nuklir, dan Surya hingga Kebijakan, Konservasi, dan Manajemen Energi dan juga Optimasi Pembangkitan Daya-nya. Selain kompetensi pendidikan pada bidang Rekayasa dan Manajemen Energi, di Program studi Fisika Teknik UGM mahasiswa dapat menekuni bidang Instrumentasi dan Kontrol, Fisika Bangunan dan Akustik, dan Teknologi Material.

******************************************************************************************

oleh : Praftiwi Umitri

Pada tanggal 25 Juni 2001, Jurusan Teknik Nuklir UGM berganti nama menjadi Jurusan Teknik Fisika dan mempunyai dua buah program studi yaitu Program Studi Teknik Nuklir dan Fisika Teknik. Berdasarkan SK Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi No. 023/BAN-PT/Ak-XI/S1/IX/2008, Program Studi Teknik Nuklir mendapat peringkat A berlaku sampai dengan 19-9-2013.

Sejauh yang saya baca di berbagai website, menurut saya informasi tersebut masih kurang dalam memberi informasi kenapa di buka jurusan “Fisika Teknik”. Semoga kakak2 angkatan yang telah terlebih dahulu memasuki jurusan ini dapat memberikan informasinya kepada kami.

sedikit sekali informasi yang saya ketahui mengenai sejarah jurusan yang saya masuki ini!!!

Maaf!!!!!!!!!!!!!!

Pada tanggal 5 Desember 1974 ditandatangani Kerjasama Induk antara Universitas Gadjah Mada dan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Pendidikan Teknik Nuklir dibentuk yang kemudian diperpanjang pada tanggal 22 Februari 1978. Pendidikan Teknik Nuklir merupakan salah satu kerjasama tersebut yang dituang-kan dalam beberapa Naskah Pengaturan Kerjasama antara Universitas Gadjah Mada dengan Pusat Penelitian Bahan Murni dan Instrumentasi (PPBMI) dan Pusat Pendidikan dan Latihan (PUSDIKLAT) BATAN Yogyakarta. Hasil dari kerjasama tersebut adalah didirikannya Bagian Teknik Nuklir pada bulan Agustus 1977. Jurusan Teknik Nuklir didirikan didasari oleh pandangan tentang pentingnya teknik nuklir, khususnya nuklir sebagai engineering, bukan sebagai sains atau ilmu.

Dua tokoh penting yang menjadi kunci berdirinya Jurusan Teknik Nuklir adalah Ir. Soetojo Tjokrodihardjo, Dekan Fakultas Teknik UGM saat itu dan Prof. Ahmad Baiquni, M.Sc.,Ph.D, Dirjen BATAN saat itu. Jurusan Teknik Nuklir UGM diharapkan mampu menjadi lumbung sumber daya manusia Indonesia di dalam pengembangan Teknologi Nuklir, terutama menyokong pendirian PLTN pertama di Indonesia.

Pada awal berdirinya Jurusan Teknik Nuklir UGM menyelenggarakan pendidikan hanya pada tingkat sarjana selama empat semester dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru yang mempunyai ijazah Sarjana Muda Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Fisika dan Kimia, di samping mahasiswa tugas belajar dari beberapa instansi.

Bersama dengan Jurusan Teknik Kimia, Teknik Geodesi dan KPTU Fakultas Teknik UGM, Jurusan Teknik Nuklir bertempat di Sekip, gedung yang digunakan untuk diploma Teknik Mesin dan Elektro saat ini. Baru pada akhir tahun 1992, Jurusan Teknik Nuklir bergabung di Grafika.Pendidikan Teknik Nuklir program Strata-1 (S-1) resmi diselenggarakan mulai tahun akademik 1981/1982 dan program lama ditutup pada semester ganjil tahun akademik 1984/1985.

Pada tahun akademik 1998/1999, Jurusan Teknik Nuklir memiliki 2 program studi, yaitu Program Studi Teknik Nuklir dan Fisika Teknik. Namun, semenjak 25 Juni 2001 Jurusan Teknik Nuklir resmi berubah nama menjadi Jurusan Teknik Fisika dengan tetap menyelenggarakan 2 program studi Fisika Teknik dan Teknik Nuklir. Sebenarnya program studi Fisika Teknik lahir di UGM karena ada keinginan untuk memperluas kompetensi keilmuan di bidang energi, jadi tidak hanya mendalami energi nuklir. Malahan ada keinginan didirikan program studi Teknik Energi tetapi karena harus mengacu kepada kurikulum nasional maka didekati dengan menyelenggarakan program studi Fisika Teknik dengan maksud tetap memdalami bidang energi. Semenjak berdirinya, Program Studi Fisika Teknik kurikulum dan silabusnya telah disusun dengan konsentrasi studi Rekayasa dan Manajemen Energi. Nah, konon begitu sejarahnya [kurang lebih begitu waktu ngobrol-ngobrol bersama Pa Alex]. Dengan ciri khas bidang Rekayasa dan Manajemen Energi yang hanya ada di Fisika Teknik UGM, disini dipelajari mulai dari berbagai macam sumber energi dan rekayasanya, seperti Rekayasa Energi Alternatif, Air, Angin, Biomassa, Nuklir, dan Surya hingga Kebijakan, Konservasi, dan Manajemen Energi dan juga Optimasi Pembangkitan Daya-nya. Selain kompetensi pendidikan pada bidang Rekayasa dan Manajemen Energi, di Program studi Fisika Teknik UGM mahasiswa dapat menekuni bidang Instrumentasi dan Kontrol, Fisika Bangunan dan Akustik, dan Teknologi Material.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.